Adakah ulat dalam apel?

Mungkin selama ini aku merasa seakan baik-baik saja, merasa sudah jadi orang yang baik, orang yang disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang dewasa. Merasa seakan-akan jadi orang yang bermasalah dalam hidup. Tapi, apa? Apa? Apa yang sebenarnya ada pada diriku. Apa baiknya diriku? Di ujung kehancuranku, akhirnya aku tersadar. Betapa aku ini orang yang begitu banyak kesalahan. Sangat banyak yang harus ku benahi.

Alhamdulillah, atas petunjuk-Nya, tampaklah padaku diriku. Betapa diri ini penuh dengan kekurangan dan kesalahan.

Sekali waktu, kita harus memberanikan diri untuk menuliskan kekurangan, kesalahan, dan keburukan-keburukan yang ada dalam diri kita sendiri. Kita coba untuk merendahkan diri ini dengan apa yang kita tuliskan di kertas itu. Maka apabila kita benar-benar merengkuh hati ini sedalam-dalamnya, sekuatnya. Maka tampaklah apa yang selama ini tidak kita sadari telah menggerogoti diri ini. Hati, pikiran, dan jiwa ini.

Ketika tampak benih ulat-ulat yang telah menggerogoti apel hati ini yang sepertinya tampak baik dari luar, maka kita mulai bisa berusaha memunguti ulat-ulat itu dan membuangnya. Dan itu tidak akan tampak kalau kita tidak membelah apel ini.

Dengan mengetahui kekurangan-kekurangan kita, kita akan bisa memulai berusaha untuk memperbaiki diri. Kalau kita selalu merasa diri ini baik-baik saja, dan enggan untuk melihat jauh ke dalam hati dan pikiran kita, maka kita tidak kan tau.

Kalau kita bersyukur kita merasa baik-baik saja, tapi kita akan lebih bersyukur kalau kita tau dan sadar akan kesalahan dan kekurangan kita. Sehingga kita bisa berusaha memperbaiki diri.

Tinggalkan Balasan